SAATNYA BERBURU BAKAT-BAKAT AKTING - [CLOSED]

Setelah lama menggodok cerita, INI SAATNYA!!! Kami mengundang bakat-bakat akting untuk mengisi peran-peran dalam film pendek berjudul DLICKERING LIGHT & menjadi keluarga besar 89 Project.

!!!CATAT!!!

1 - 2 Oktober 2010 @ Sekertariat PSM UNPAD - Dipatiukur Bandung | 09:30 - 16:00 WIB

3 Oktober 2010 @ Ngeumong cafe & library | Jatinangor | 09:30 - 16:00 WIB

jangan lupa ya kasih tau keluarga, ayah, ibu, kakak, adik, teman, tetangga, pacar... atau siapa saja.

Terima kasih atas dukungan & kunjungan Teman.

Salam Hangat - | 89 Project

HEMOPHILIA A to Z

(H)emophiliac adalah istilah yang dapat digunakan untuk menyebut orang penderita hemofilia.

(E)ngsel, adalah sendi pada lutut, pergelangan kaki, dan siku yang paling mudah rusak. Sendi engsel hanya mempunyai sedikit perlindungan tekanan dari samping. Karenanya, sering terjadi perdarahan di daerah-daerah tersebut.

(M)engabaikan memar dan luka pada penderita hemofilia bisa berakibat fatal. Semakin parah perdarahan, semakin banyak faktor pembeku yang diperlukan. Perdarahan tidak boleh dibiarkan karena pengobatannya akan menjadi berlarut-larut, lebih lama, dan lebih mahal.

(O)lahraga perlu dilakukan penderita hemofilia untuk menjaga otot dan sendi agar tetap kuat. Renang adalah olahraga dengan risiko sangat ringan yang banyak dianjurkan untuk para penderita hemofilia.

SELAMAT DATANG DI BLOG 89 PROJECT

Blog 89 Project akan mengajak kita masuk lebih dalam tidak hanya proses belakang layar film pendek berjudul "Flickering light" semata, namun akan lebih jauh mengetahui informasi tentang hemofilia, atau fakta-fakta menarik tentang dunia "darah".

Blog ini didedikasikan sepenuhnya untuk menunjang penyebarluasan informasi tentang 89 Project dan hemofilia.

Terima kasih atas dukungan & kunjungan Anda.

Salam Hangat - | 89 Project

SMITH STORY

"About seventy or eighty years ago, a woman by name of Smith, settled in the vicinity of Plymouth, New Hampshire, and transmitted the following idiosyncrasy to her descendants. It is one, she observed, to which her family is unfortunately subject, and had been the source not only of great solicitude, but frequently the cause of death. If the least scratch is made on the skin of some of them, as mortal a hemorrhagy will eventually ensue as if the largest wound is inflicted. (…) So assured are the members of this family of the terrible consequences of the least wound, that they will not suffer themselves to be bled on any consideration, having lost a relation by not being able to stop the discharge occasioned by this operation." -(Otto JC. The Medical Repository. 1803;Vol VI (No 1):1-4)-

ROYAL DISEASES

Hemofilia seringkali disebut dengan "The Royal Diseases" atau penyakit kerajaan. Ini di sebabkan Ratu Inggris, Ratu Victoria (1837 - 1901) adalah seorang pembawa sifat/carrier hemofilia. Anaknya yang ke delapan, Leopold adalah seorang hemofilia dan sering mengalami perdarahan. Keadaan ini di beritakan pada British Medical Journal pada tahun 1868. Leopold meninggal dunia akibat perdarahan otak pada saat ia berumur 31 tahun. Salah seorang anak perempuannya, Alice, ternyata adalah carrier hemofilia dan anak laki-laki dari Alice, Viscount Trematon, juga meninggal akibat perdarahan otak pada tahun 1928.

SUDAH MEMILIKI OST

"The journey" telah resmi jadi Original Soundtrack Flickering Lighy. Lagu ciptaan Hetza Fadilah atau lebih akrab di panggil Eca ini memang dipesan khusus. Bersama rekan duo dalam "The Foppish", Ari (Ari Toma) berhasil menterjemahkan FL dalam rasa yang berbeda, lirik dan melodi.

Lagu lain yang akan tak kalah oke adalah "Unreal Hope". Bertema kegalauan, Unreal Hope menjadi representasi perasaan Adhella yang paling dalam

Untuk mengunduh, silahkan Klik ikon di side bar

>THE FOPPISH FANS PAGE

Salam Hangat - | 89 Project


Minggu, 5 Maret 2011. Yaps, bekerjasama dengan liga film mahasiswa – Institut teknologi Bandung, 89 Project menggelar premiere Flickering light, film pendek yang telah diupayakan tak kurang dari 9 bulan lalu. Gelaran premiere yang masuk dalam program “Ganesha exebition programme” (GEP) milik LFM tak hanya menghadirkan Flickering light saja, namun ada 2 film dokumenter pendamping, yaitu Tetes cinta hemofilia buatan Source of Indonesia (Medan) & Mamaku pahlawanku karya Ibu Hotnida beserta putra tersayang yang merupakan penderita hemofilia (Jakarta). kemeriahan GEP tak berhenti di gelaran premiere FL (Flickering light), namun ditambah dengan premiere 2 film pendek karya LFM-ITB sendiri yaitu The Inspiration & Tre(s)no, plus screening film omnibus karya Dienan Silmy, Rozi MF, Irfan Hendarmin, Muham Novianto, Dayo Sesario.


89 PROJECT SHOWTIME
Rangkaian GEP dengan tema “Premiere” mulai membuka pintu untuk pengunjung jam 15:30 WIB. Meski Bandung sempat diguyur hujan, namun minat pengunjung atau dalam hal “Premiere” lebih asik disebut penonton tak berkurang, perlahan berdatangan dan mulai memenuhi R. Bioskop 9009 ITB, entah karena free pass, film-film yang akan tampil atau snack & pop corn gratis dari teman-teman panitia LFM, ya mungkin semuanya.

Gelaran pertama tentu rangkaian dari 89 Project. Pertama diputar adalah film dokumenter asal Medan hasil kerjasama Source of Indonesia (SoI)& Family supporting Group Tetes Cinta Hemofilia (TCH). Dalam waktu 14 menit, TCH memaparkan hemofilia secara ringkas dengan gaya dokumenter yang apik, maklum, SoI bukanlah pemain baru di bidang documentary. Setelah “pemanasan” penonton cooling down dengan penampilan duo, The Foppish yang tak lain dan tak bukan pengisi OST FL. Satu lagu mengharu biru berjudul “Unreal Hope” mengantar penonton menuju film utama, Flickering light. Meski durasi putar FL menuju ambang batas sebuah film pendek, yaitu 27 menit & 39 detik namun antusias penonton cukup besar, setidaknya lebih dari setengah kapasitas R. Bioskop 9009 terisi. Sayang memang, tata suara yang terdengar tidak sebaik yang diharapkan, entah karena dari audio FL kurang mumpuni atau tata suara ruangan yang memiliki gaung cukup tinggi. Ketidaknyamanan ini membuat beberapa bagian film terasa tidak jelas secara audio. Sekalian saja, Kami dari 89 Project meminta maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini. Namun syukur, meski begitu penonton bisa menangkap apa maksud dari FL, setidaknya beberapa penonton awam (di luar kru) bisa merasakan aura kisah Tama dan Adhella, ada juga yang mengatakan “Ada 2 adegan yang bikin merinding...” (merinding karena keren, atau merinding karena kedinginan.. entahlah). FL memang tidak menitik beratkan pada kepadatan informasi akan hemofilia namun lebih ke satu sisi hubungan relationship penderita hemofilia melalui representasi Tama (penderita hemofilia) dengan calon istrinya Adhella.  Bagaimana hemofilia bisa saja menjadi penghalang atau justru sebaliknya menjadi penguat tali kasih mereka. Satu sajian yang berusaha menginspirasi setiap hubungan dan arti memperjuangkan cinta.

FL selesai diputar sekitar jam 5 sore lewat. Nuansa haru biru di refresh kembali oleh penampilan The Foppish lewat 2 lagu “Cow boy”, satu lagu lain (Saya lupa judulnya) dan berakhir dengan lagu “The journey”, lOST FL. Tentu tak lengkap jika “Premiere” tanpa ada “Pertanggungjawaban” dari para filmmaker, maka sesi diskusi dimulai dengan moderator dari teman-teman LFM. Diskusi terarah baik. Mengupas tentang proses pembuatan dan seluk-beluk cerita, proses, hingga pembuatan lagu, semua di bahas singkat dan padat. Bahkan pertanyaan tentang Hemofilia sendiri cukup banyak, mengingat orang-orang yang menjadi nara sumber bukan hanya dari kru film tapi dari pihak Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia, lembaga yang menaungi hemofilia tingkat nasional melalui perwakilan Mas Agustama. Rangkaian acara 89 Project diakhiri dengan penayangan video dokumenter amatir buatan Ibu Hotnida beserta putranya yang mengidap hemofilia. Meski durasi tak lebih dari 7 menit, film berjudul Mamaku pahlawanku menjadi closing penuh emosional, meski lagi-lagi harus terkendala masalah tata suara. Acara break sekitar pukul 18:00 untuk kembali menayangkan Film-film Premiere  pada pukul 19:00 WIB

LFM IN ACTION
Maaf-maaf saya sedikit telat masuk ruangan dan film The Inspiration telah dimulai beberapa menit lalu. Bercerita tentang Bayu yang kehilangan inspirasi  ketika hendak membuat film, ya bagi penggiat film hal macam ini sangat dekat sekali, dimana ingin berkarya tapi ga punya ide. Beruntung Bayu memiliki teman Anes (kalo tidak salah) yang mengajaknya ke dunia penuh imajinasi. Membuka pemikiran Bayu akan hal-hal unik, lucu dan penuh warna. Nanda Ekaputra Panjiarga selaku sutradara berhasil mengantarkan The Inspiration mencapai sesuai judul, coz memang mengantarkan inspiratif ke setiap penonton.

Next on, Tre(s)no, kisah komedi romantis memang biasa, namun ditangan Fikri “Pii” Gustin, pengemasan cerita menjadi unik dan berhasil mencampur komedi dan romantisme, penuh dengan adegan-adegan mengundang tawa namun disisi lain bisa membuat kita terrenyuh akan keromantisan Sam (tokoh utama) ke Puspa (tokoh utama juga). Belum lagi ending nyeleneh antara pengen ketawa dan bilang “so sweet”. Jadi Sam adalah pria asli Jowo, yang percaya sama takhayul dan segala ramal-ramal mulai dari barat sampe timur. Sedangkan Puspa, adalah gadis periang yang nampaknya tidak peduli semua itu, dan memiliki hobi fotografi. Keduanya mengikuti perjalanan hunting fotografi dari Bandung – Semarang – Bandung (Kutipan dari laman kineklub.lfm-itb). Dalam deretan pujian untuk Tre(s)no, terselip pertanyaan minor, "kanapa harus ada tanda kurung pada judul?".

Diskusi mulai bergulir, para filmmaker tampil untuk “pertanggungjawaban”. Banyak apresiasi untuk kedua film tadi, dan secara proses produksi The Inspiration &“Tre(s)no” sangat indie namun dapat bertutur dengan cerdast. Satu cahaya kebahagiaan pada akhir diskusi, bagi-bagi DVD Tre(s)no dengan menjawab beberapa pertanyaan seputar film, sayang sekali saya tidak dapat DVDnya :-(.

ci(N)ta LAST PREMIERE
Agak miss mungkin dengan tema “PREMIERE – RED CARPET”nya GEP sekarang coz ci(N)ta telah Premiere di Blitz Jakarta. Tapi ya sudahlah anggap saja ini Premiere Bandung. Usai diskusi film karya LFM saatnya menonton ci(N)ta, upsss.... maaf sebelum itu ada sajian penyela terlebih dahulu, serangkaian “iklan” yang agak lama. Waktu menunjukan pukul 20:00 lewat dan film baru berjalan. Sekali lagi mohon maaf saya lupa urutan film apa saja. Memang ci(N)ta adalah film omnibus, film gabungan antara 5 film pendek yang semua memiliki tema cinta namun tentu dengan cerita & pengemasan berbeda dari 5 sutradara berbeda pula. Wah pasti akan cukup panjang kalau saya ceritakan satu per satu, maka saya ambil rangkumannya dari bicarafilm.com.

“Cinta itu tidak perlu bicara, maka orang bisu pun bisa melakukannya, seperti yang dikisahkan dalam film Lukisan Keabadian dan Notes. Belajar dari sejarah cinta tak pernah mengenal kata terlambat seperti diceritakan dalam film Meraih Cinta. Cinta itu tidak akan pernah mati termasuk saat obyeknya sudah tak lagi ada, seperti dalam film Aneurisme Serebral dan Elegi Nacita. Satu demi satu kisah bergulir, membentuk sebuah harmoni kehidupan yang satu persatu semuanya bermuara akan cinta yang diagungkan dalam film ini.”

Daya tarik terbesar ci(N)ta justru bukan dari filmnya (IMHO) tapi dari nama “Hanung Bramantyo” yang selalu tersemat dalam setiap publikasi. Benar sekali, kelima sutradara muda penggagas ci(N)ta adalah lulusan workshop Hanung, jelas saja secara kualitas gambar dan teknis sangat2 baik, apik, rapi dan clllliiiing. Aga berbeda karakter kualitas dengan semua film yang main sebelumnya.. Untuk kesekian kali saya harus meminta maaf karena tidak dapat mengikuti sesi diskusi bersama para sineas ci(N)ta jadi daripada salah, bijak jika saya tidak menulis tentang proses diskusi berdasarkan informasi orang lain. Hanya satu pertanyaan minor, "Kenapa konsep judulnya sangat mirip dengan cin(T)a, padahal untuk ranah indie menurut saya strategi dumping macam itu sangat tidak pas. Namun apakah ci(N)ta termasuk indie atau tidak itu juga masih abu-abu, namun nyatanya ci(N)ta telah masuk ruang penayangan bercitarasa ke-Indie-an" (IMHO)

GREAT PREMIERE n THANKS TO...
Saya tidak menyangka penonton akan seheboh kemarin, minimal itu premiere terbaik selama “karir” saya. Terima kasih kepada Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi bandung untuk semua bantuan, mulai dari A-Z. Dari penjadwalan, ruangan hingga urusan konsumsi sekalipun. Meski teteplah itu tata suara sedikit mengganggu... hehehe Tapi sungguh, saya atas nama pribadi dan segenap keluarga besar 89 Project mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kerjasama yang baik.

Terima kasih ke semua undangan yang berkenan hadir dan seluruh penonton yang “terjebak” kehebohan publikasi kami. Terima kasih telah datang meski sedikit gerimis, terima kasih telah memberikan kami semangat untuk kembali melahirkan karya. Kami menyayangi kalian semua.

Mas Agustama yang telah berkenan jauh-jauh hadir dari Jakarta karena penasaran akan Flickering light. Tak lupa juga seluruh keluarga HMHI, YPH, dan penderita beserta keluarga hemofilia dimanapun kalian berada. Terima kasih banyak

Terakhir. Terima kasih sebesar-besarnya untuk semua pihak yang telah mendukung dan menyemangati 14 bulan bergulir produksi, melalui twitt, komen, like this, doa, harapan, relink, share link, diskusi, sharing, pertanyaan dan apapun yang telah diperbuat untuk 89 Project. Maka Flickering Light seyogyanya adalah milik kita bersama karena kita semua adalah bagian dari lahirnya karya ini.

Salam Hangat...

ROBBY PRASETYO
89 Project producer



89 Project bekerjasama dengan Liga Film Mahasiswa - Institut teknologi Bandung (ITB) mempersembahkan

FLICKERING LIGHT - PREMIERE
100% FREE & FUN!!!

Sabtu, 5 Maret 2011
R. Bioskop 9009 Institut Teknologi Bandung (ITB)
Pukul 16:00 - 18:00 WIB

Penayangan perdana Flickering Light, sebuah film pendek karya pertama dan terakhir 89 Project.

Ditambah 2 film dokumenter pendek tentang hemofilia, "Tetes cinta hemofilia" (Medan) & "Mamaku pahlawanku" (Jakarta).

Ga lengkap rasanya premiere tanpa jumpa orang balik layar dan pastinya ada diskusi tentang "membuat Flickering light"

Juga akan dimeriahkan dengan Penampilan ekslusif dari pengisi original soundtrack Flickering Light, The Foppish.

Datanglah lebih awal kawan untuk menikmati beberapa sajian tambahan dari kami... :-)

Support for Independent film n filmmaker... :-)

***

Flickering Light (2011)
FIKSI | 27 MENIT 39 DETIK | BAHASA INDONESIA (ENGLISH SUBTITLE) | 89 PROJECT
Fuzia Syukuri, Mutya Rochandy

Produser : Robby Prasetyo | Manager Produksi : Laila Ramdhini | Penulis naskah : Bicky Perdana Putra | Sutradara : Bicky Perdana Putra | DOP : Fadhli Ahmad | Art Director : Yuki A. Nagarani | Editor : Robby Prasetyo

Sinopsis :
Sepasang kekasih yang telah sangat sempurna, namun ternyata masih tersimpan satu rahasia diantara
mereka. Rahasia yang membuat mereka berpikir, hilang arah, lalu mencari.

Catatan Sutradara :
Flickering Light adalah film pertama saya dalam ranah keseriusan. Dimana saya bekerja dengan orang-orang yang sangat serius menangani apapun yang mereka sentuh dan rasakan. Orang-orang yang menaruh harapan-harapan yang serius kepadanya.

Walau bukan film pertama, Flikering Light adalah “anak pertama” saya. Dimana saya menebar obsesi-obsesi, pikiran-pikiran, dan memanjakan otak kanan saya. Ditemani dan dimanjakan pula oleh asisten yang begitu banyaknya, keluarga 89 Project. Sehingga pada akhirnya pembuatan film ini pun persis seperti proses melahirkan; berkeringat, menguras tenaga, berteriak, lalu muncul sebuah tangis,
dan diakhiri dengan senyuman semua orang.

Ini bukan film yang ditujukan untuk membuat anda terkesima dan berakhir dengan sebuah standing applause. Flickering Light adalah pesan dari teman-teman saya. Pesan dari teman-teman penderita hemofilia, pesan dari keluarga mereka, pesan dari orang-orang di sekitar mereka, dan pesan dari semua kru 89 Project.

Jika pun saat ini, kita semua di ruangan ini, mengaku mampu menikmatinya, itu adalah efek samping dari kerja keras teman-teman saya.

Apa yang real dalam film ini, adalah mereka benar-benar ada, teman-teman penderita hemofilia yang butuh perhatian dan sangat butuh dipahami. Tidak sekedar untuk diketahui, lalu anda pergi.

Walau film ini pun tidak memuat sebegitu banyaknya informasi yang anda butuhkan untuk dapat memahami hemofilia. Tapi saya harap film ini dapat memancing kita semua untuk mencari. Seperti Tama dan Adhella yang mencari satu sama lain.

***

Drop of love hemophilia – Tetes cinta hemofilia (2010)
DOKUMENTER | 13 MENIT 40 DETIK | BAHASA INDONESIA (ENGLISH SUBTITLE) | SOURCE OF INDONESIA - MEDAN
Produser : Renta Morina Evita Nababan | Sutradara : Santi Arta

***

Mamaku Pahlaanku

DOKUMENTER / HOME VIDEO | 6 MENIT 31 DETIK | BAHASA INDONESIA | INDEPENDENT – HOME VIDEO
Produser : Hotnida Ria | Sutradara : Hotnida Ria


Ehemmm...ehem... cek 1..2..3..

Salam sodara2 ku tersayang...
Bukan..bukan... post Ini bukan peluncuran trailer fenomenal.... :p ...TAPI...

Dengan Bangga Saya akan me-release

"Flickering light soundtrack"

yapzzzz untuk yang belum tau (wah terlalu....) FL dipesiapkan sangat serius sampe ke urusan OST. Bahkan pada saat FL masih mempersiapkan pemaen di bulan Oktober, proses pembuatan OST udah jalan. Jadi kalo kita suting cuma 7 hari, bikin lagu menghabiskan tak kurang dari 3 bulan.

Soundtrack FL dipercayakan ke duet Om Ari (Ari Toma) n Mbak Eca (Hetza Fadilah). dan menamakan diri "The Foppish (TF)" (Check this out!!!).

Ada 2 karya TF yang dikasih tanggungjawab ngasih mood & feel FL. Mereka adalah

1. Unreal hope : Meski bukan dibuat khusus untuk FL, tapi pas pertama kali denger versi demo hape aja hampir bisa dipastikan Unreal Hope akan masuk dalam music scouting list. Liriknya galau2 gimana gitu... sangat Adhel.

2. The Journey : Nah ini baru ORIGINAL SOUNDTRACK. Berbekal naskah, mbak Eca merangkumnya dalam lirik2 yang udah pasti FL bangetlah. Meski beraura tak jauh berbeda, "The journey" ga segalau Unreal hope. Dalam lagu "The journey" ada harapan2 n optimistik. Apalagi ada sentuhan biolanya yang ajib banget... ini keren pisun... (Bocoran : Versi instrumen bikin merinding cuy). Pokonya ga kalah deh ma Endah n Resha... hehehhehe

Tanpa lama nunggu lagi silahkan Unduh & nikmati OST FL

http://www.4shared.com/audio/nSwStiX9/01_The_Journey.html
http://www.4shared.com/audio/XyPXX1xv/The_Foppish_-_Unreal_Hope.html

Catetan : Mav filenya aga tambun, biasa Hi-Quality...ckckckck

Nah... Ini Penting!!!
Jadi mohon partisipasinya untuk sebarin OST FL ni ya. Sebarkan, perdengarkan seluas2nya, ke siapa aja, dimana aja, kapan aja. Ke kaka, ade, ayah, ibu, sodara deket, sodara jauh, tetangga, temen kostan, ke Ibu kostan, ke temen kelas, temen komunitas, temen UKM, temen lama, temen kampus, temen deket, pacar, mantan pacar, musuh juga boleh, rekan kerja, rekan kantor, bos, pokonya seluas2nya... Obrolin di wall FB, di group, di Twitter, di Kaskus, dimilis, di semua micro blogging, tulis di blog, jurnal pribadi masing2, berkali2, gosipkan, dendangkan, nyanyikan, mainkan gitar cordnya, masukin di hape, di mp3 player, di BB, dIPhone, di winamp, di WMP terus2an, copy di sebanyak2nya tempat, IT'S FREE!!! (makasih dah berpartisipasi). Kasi bonus lirik deh (Cord akan segera menyusul... keep update!)...

***
Unreal Hope

I’m gonna get you, but i don’t wanna make a move to show you that
I really need you Like i need a breath to stay alive
Maybe you don’t know, for me u’re like a light You keep my spirit alive
So please tell me, tell me why you here Why you doing this

Like a river flow, always calm and The bottom can’t be seen
neither do my heart I could cover with, my too much pride
I know exactly, both of us have something to hide
I’m waiting for you, come tell me please Be honest for us

Chorus:
I find the way, find the way to what i wanted
It is you, who open my mind And tell me what’s the truth
I find the way, your innocent eyes tell me there’s no lie
Surely someday you find the way I’m the one for you

***

The Journey

never Thought we have gone this far
Trouble likes to come without knocking the door
Then we must serve them our best values
To overcome anything, until its finish line

So hold my hand, continue the journey
What if just forget the hard times behind
‘cause in this world, what we need is
to understand and not always to be logical

Chorus:
We’re just another human being
Don’t be worry, sometimes complaining
Try to lose a lil’ of our ego
Then foot steps start all over again

And beyond all this troubled times
Don’t you know, we are specialized
We might be the same, with the different faith
Keep your head up upon this life

Bridge:
Huuu….I love the shore ‘cause they never make me hurt
The sand could stretch just to let my feet sink
They really know what I am feeling.

Saya masih ingat benar kejadian di siang hari waktu itu. Bola melesat dengan cepat melewati hadangan anak-anak yang menjaganya. Saya berada dalam kondisi bebas, tentu saja bebas karena saya bukan pemain yang menjadi incaran buat dihadang. Jangankan jadi striker yang membawa bola, paling sering justru saya yang lebih kerap ditinggal bola.

Tapi, yang tidak bisa saya lupakan adalah kejadian waktu itu, saat bola sedang meluncur deras ke arah saya. Saya tahu ini kejadian yang tidak boleh saya sia-siakan, tidak ada waktu lagi bola itu harus direbut. Tanpa berlama-lama saya pun segera ngebut berlari lari dan…..Dash….bola itu sekarang ada di kaki kiri saya.

Luar biasa, ini betul-betul peristiwa yang jarang saya alami! Tuhan Maha Besar, akhirnya saya bisa merasakan kesempatan mendapatkan bola! Ini bola yang saya tunggu-tunggu selama ini! Saya tahu seharusnya saya merayakan momen langka seperti ini tapi yang ada sekarang saya justru menjadi incaran pemain-pemain lawan. Aduh, nafsu banget sih kalian ini, nggak bisa ya lihat orang  lain bersenang-senang sebentar? Melihat kondisi yang bisa memburuk secara refleks otak muda dalam kepala saya pun segera memerintahkan saya untuk segera bertindak, ini waktunya!


Dan semuanya terjadi seperti berjalan dengan gerakan lambat, dalam hitungan detik bola yang ada di kaki saya pun mulai meluncur menjauh setelah terkena tendangan kaki kiri saya. Cuma satu yang ada di benak saya, sekarang atau tidak sama sekali!

Bola pun kembali bergerak menyusur tanah sebelum para lawan itu sampai dan merebutnya dari kaki saya. Tidak terlalu cepat, tapi jauh dari kesan lambat meninggalkan para pengejarnya. Gerakannya begitu halus hingga mampu menipu penjaga gawang, ia seperti termangu tidak menyadari bola yang bergulir dari arah kanannya. Dikiranya bola akan berhenti sebelum sampai ke gawang, tapi ia salah, bola tetap bergerak, melesat lurus ke hadapannya. Ia baru sadar bola melaju  tidak terhentikan, bola ini adalah ancaman! sesaat kemudian ia bergerak maju namun, terlambat! Bola menyusur di antara kedua kakinya dan….Goooooolllllll!!!!! Inilah gol pertama saya, begitu indah, begitu memukau!


Sorak riuh teman-teman yang menonton terdengar seperti alunan musik di telinga saya saat itu. Untuk pertama kalinya saya menjadi bintang lapangan sebelum akhirnya bel tanda istirahat selesai berbunyi. Aaah, Tuhan tidak bisakah Kau buat penjaga sekolah lupa untuk membunyikan bel?

Sampai sekarang saya masih bisa tersenyum kalau ingat peristiwa waktu itu, sayangnya kejadian 22 tahun yang lalu itu jadi gol yang pertama sekaligus terakhir buat saya.

Ketidakmengertian kami tentang Hemofilia di masa lalu sudah membuat darah dalam tubuhku mengikis bagian-bagian penting di kakiku. Dan baru beberapa bulan yang lalu, saya bisa menerima kalau saya tidak akan bisa lagi mengulangi kegembiraan menjadi penentu kemenangan biarpun cuma di level istirahat sekolah. Kaki saya sudah menjadi terlalu berat dan kaku walaupun hanya untuk berlari santai.

Seringkali saya berdoa pada Tuhan supaya saya diberi kesempatan untuk mengulangi momen emas itu. Akan Saya tukar apapun untuk mendapatkan kegembiraan seperti itu, tapi Tuhan tetap dalam kehendakNya.


Oleh : Antonius Ari Sundana

Sumber gambar: gettyimages

Helloooowww guys! I'm back. Miss me? *halah* Heuheu. Haduh, maafkanlah saya yang tidak pandai meluangkan waktu lagi untuk ngeblog. Padahal dulu rencananya mau update tiap hari selama masa-masa syuting. Tapi ternyata cuma bertahan sampai hari keempat. Selanjutnya? Bablas! Hehehe.. Jadi, laporan syuting hari kelima, keenam, dan ketujuh, saya jadikan satu aja yah. Saya cuma punya waktu 15 menit soalnya *sok sibuk*

Syuting Hari Kelima: Memperkenalkan.. Thoriq

Hari Jumat (17/12) kru 89P kedatangan anggota baru lagi. Dia adalah Thoriq, yang memerankan seorang anak penderita hemofilia. Ia masih kecil, masih duduk di TK. Wajahnya tampan, kulitnya bersih, dan tingkahnya lucu. Penggemar Justin Bieber ini berhasil mencuri perhatian para kru.



Kru sempat khawatir karena pada H-5 syuting Thoriq disunat. Bagaimana kalau belum sembuh? Tapi untunglah pada hari syuting Thoriq sudah sehat dan (terutama cara berjalannya) udah agak ‘normal’. Hihihi...


Syuting Hari Keenam: Pantai!

Nah ini dia yang ditunggu-tunggu semua kru: syuting di Pantai! Dari beberapa opsi yang diajukan, akhirnya kru 89P memutuskan pergi ke Pantai Santolo Indah, Garut.

Kru berangkat dalam 2 mobil. Mobil pertama berangkat dari Bandung, yang membawa Uzi (pemeran Tama), Tya (pemeran Adhel), Robby (Produser), Bicky (Sutradara), Kiky (Asisten Sutradara 1), Fadhli (DOP), Dhika (Kru Dept. Kamera), dan Sinta (BTS). Sementara itu, mobil kedua berangkat dari Jatinangor dengan membawa Satria (yang dimintai tolong jadi supir :D), Laila (Manajer Produksi), Lisma (Manajer Lokasi), Upi (Kru Dept. Kamera), Puput (Asisten Fadhli), Indra (Boomer), dan Alvi (BTS).

Mobil pertama berangkat pukul 3 pagi (!), sementara mobil kedua berangkat pukul 5. Karena mobil pertama sempat berhenti di jalan untuk sarapan dan di mesjid untuk (Uzi) mandi, sekitar pukul 9 bertemu dengan mobil kedua dan kemudian berangkat beriringan.

Kru tiba di pantai Santolo saat tengah hari, dan langsung mengeksplor pantai. Ada kru yang nyari spot buat syuting, tapi yang lain sih kebanyakan foto-foto.. :)




Syuting dimulai selepas ashar. Sayang, saat itu cuaca mendung. Scene yang seharusnya menampilkan sunset, ternyata tidak bisa. Ya suw, apa adanya sajalah..

Kru meninggalkan pantai sekitar pukul enam sore. Sebelum ke Bandung, kru sempat mampir ke rumah Uzi dan makan malam di sana. Enaaaaakk...! :) Thanks to Uzi & family.



Syuting Hari Ketujuh: It’s A Wrap!


Seharusnya sih ga ada syuting hari ketujuh. Tapi karena ada scene-scene yang belum sempat terambil sesuai jadwal karena hujan atau keterbatasan waktu, jadilah hari Minggu (19/12) ada syuting untuk scene-scene yang tersisa.


and...

it’s a wrap!


Syuting selesai dan kini memasuki masa post production.

Ga sabar nih nunggu hasilnya.

Pasti keren.

Harus! :D



Foto Thoriq by Sintamilia

Foto crew by Satria


Cukup lama serangkaian proses produksi yang hectic menyita waktu kami untuk dapat berinteraksi dengan sahabat-sahabat sekalian. Semoga sapaan hangat ini dapat menyegarkan suasana kembali.

19 Desember 2010, setelah 7 hari proses pengambilan gambar, 89 Project telah menyelesaikan lagi 1 tahap menuju penayangan untuk dunia. Komitmen & kerja keras segenap tim produksi telah dibuktikan. Segala apa yang bisa usahakan telah kami kerjakan, meski tak lantas filmnya menjadi karya paling sempurna, karena niscaya Kami masih dalam proses menuju pencapaian yang lebih baik.

Tak terkira dukungan dari teman-teman yang terus menjaga semangat kami selama tak kurang dari 9 bulan ini. Semangat yang membuat kami tak memiliki pilihan untuk mundur atau menyerah. Semangat yang menjadi pegangan satu-satunya ketika jatuh dan tertatih-tatih.

Untuk itu, semoga rasa rasa terima kasih yang tulus dari Saya pribadi & segenap tim produksi dapat menjadi “pembayaran awal” atas semua dukungan sebelum pada waktunya Kami akan persembahkan karya yang kita upayakan bersama, Flickering Light.

Warm Regards
Robby Prasetyo
89 Project Producer

Minggu (12/12) lalu adalah hari keempat syuting Flickering Light.
Scene yang diambil masih di kamar Adhel sampai siang, lalu sorenya berlanjut ke Kampus Fikom Unpad Jatinangor sampai malam.

Saya sendiri hanya hadir saat syuting di lokasi kampus.
Salah satu scene yang diambil adalah adegan di sekre HMHI (Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia). Kalau hari sebelumnya departemen Art menyulap sebuah ruangan luas di rumah Citra (teman Lisma- Location Manager) menjadi kamar Adhel, hari itu mereka juga mengubah Sekretariat EDGAB (English Discussion Group For Academic Purpose) menjadi sekretariat HMHI.

Dibantu yang lain, mereka ngangkut-ngangkut meja, lemari, buku-buku, dll. Hebohlah. Untung hari minggu. Jadi kampus sepi dan bebas diberantakin *eh? hehehe..

Syuting selesai sekitar pukul setengah sembilan malam. Para pemain dan sebagian kru langsung pulang. Sementara sisanya (termasuk saya) nongkrong dulu *sok gaul

Btw,
hari ini syuting libur.
Insya Allah dilanjutkan hari Jumat (17/12).


Seperti biasa..
foto-foto menyusul yaaah...! ^_^

Clappergirl
Catatan Adegan

Set Kamar Adhel
Peralatan Perang Makeup Artist

22 Scenes




Foto oleh Lutfi Muhammad (Kru Departemen Kamera)

Sabtu (11/12) adalah syuting hari ketiga.
Rencananya, semua scene yang berlokasi di rumah Adhel akan diselesaikan.
Sayang, ternyata ga semuanya terambil. Menurut saya sih, yang paling lama itu nge-set kamarnya.

Bayangkan, sebuah ruangan yang sangat luas, diambil kira-kira sepertiganya buat di-set jadi kamar Adhel. Tempat tidur, lemari, lampu, lukisan, jam dinding, jam meja, karpet, standing mirror, dll disiapkan dan ditata oleh Art Department dibantu kawan-kawan.

Sementara yang sepertiga dijadikan set, dua pertiga bagian ruangan lain jadi tempat kru menumpuk tas-tas, makanan, peralatan, dan sebagainya. Jadinya? ya super berantakan lah! Haha..

Nge-set kamarnya saja perlu waktu seharian, dari siang sampai malam.
Selama Art Dept nge-set kamar, Dept. Penyutradaraan + Dept. Kamera mengambil scene di teras dan di ruang tamu. Scene di kamar jadi scene terakhir yang diambil. And you know what, sampai berita ini diturunkan *halah*, mereka masih syuting di kamar Adhel. Wow!

Oya, buat yang mengikuti proses produksi 89P mungkin tahu, bahwa kru sulit sekali mencari pemeran orangtua Adhel. Nah, kemarin di rumah Adhel, ada adegan yang melibatkan orangtua Adhel. Dan yang jadi orangtuanya adalah...

jreng-jreng...

Pemeran Bapak adalah salah satu dosen Fikom Unpad, sementara pemeran ibunya adalah ibu kos nya Steva (Astrada 2). Hehehehe.. Keduanya main bagus loooh.. :)

Well, sampai sini dulu laporannya.
Saya harus segera berkemas-kemas menyusul kru di lokasi syuting.
Seperti biasa, foto-fotonya nanti yahh..

pokoknya nanti bakal ada galeri foto BTS besar-besaran deh abis syuting.
Insya Allah...



Keep following! :)

89 Project sedang dalam masa syuting. SYUTING! OMG! Ini akan menjadi puncak dari segala puncak *apa coba?*.

Syuting dimulai hari Kamis (9/12). Adegan pertama yang diambil adalah di taman, saat Adhel memperlihatkan cincin tanda komitmen pada Tama (baca sinopsisnya disini).
Sayangnya, satu scene lain yang dijadwalkan hari itu tidak terambil karena hujan. Ckckck..

Saya tidak ikut syuting. Hiks hiks. Cuma bisa mampir dan ngasih info bahwa saya nemu kandidat pemeran anak kecil. Setelah itu saya ngantor. Pulang kantor saya bawa “oleh-oleh” berupa Clapperboard. Bicky (sutradara) memang minta saya untuk minjem clapperboard kantor. Alhamdulillah, dibolehin ma si bos. Makasih Bos! ^_^

Hari kedua syuting (Jumat, 10/12), saya tidak bisa hadir sama sekali. Asisten saya pun (Alvi) katanya baru bisa hadir syuting agak siang. Kalau gak salah sih, dia mau ngurus perizinan lokasi syuting. Hectic lah pokoknya. Apa boleh buat.
Kabar baiknya, scene-scene yang dijadwalkan untuk hari itu, “terbungkus” semua. Alhamdulilah.

Hari ini (Sabtu, 11/12) adalah hari ketiga syuting. Insya Allah saya bisa hadir. Doakan yah, semoga lancar semuanya. Amin.

SEMANGAT! :)

Photo session selesaaaaaaii....!
Kemarin (7/11) kru 89P sudah melaksanakan photo session. Saat itu, kami memotret Tama (diperankan oleh Uzy) dan Adhel (diperankan oleh Tya) yang sedang dalam masa-masa pacaran. Hohohoho...

Kru mengambil lokasi di Tangkuban Perahu dan Kampung Gajah. Sebenarnya sih mau ke Yoghurt Cisangkuy juga. Tapi karena satu dan lain hal, batal dan akhirnya foto "makan es krim" berganti setting di salah satu tempat di Kampung Gajah.

Berkumpul di UPI jam 10an, lalu berangkat ke Tangkuban Perahu jam setengah 12 siang (yeah, ngaret). Di sana pemotretan sampai jam 3, lanjut pemotretan ke Kampung Gajah sampai setengah 9 malem (udah pada tutup tuh! Hihihihi..)

Dari siang sampai malam, Bandung diguyur hujan. Duh, mana lokasi-lokasinya benar-benar tinggi banget deh. Menggigil jadinya. Tapi seru. Dan hasil foto-fotonya dooong.. KEREN BANGET dah. Kayak foto pre-wed gitu *asik asik*

Mau liat foto-fotonya?
[Spoiler] nanti akan muncul di filmnya.
Jadi, jangan sampai ga nonton ya! :D

Hmm...
Foto-foto Behind The Scene nya menyusul yah.. kemarin saya ga bawa kamera soalnya, hehe.
Tapi thanks to Dept Camera Crew (Fadhli, Lutfi, Dhika) yang udah bersedia memotret untuk BTS (yang hasil fotonya tentu saja jauh lebih keren dibanding hasil jepretan saya selama ini. Hihihi. maklumlah, saya kan amatiran. Mereka fotografer sejati. Hohoho...

Besok (9/11) adalah HARI PERTAMA SYUTING.
Doakan ya teman-teman, semoga lancar. Amin.




NB: Ongkos produksi masih kurang banget ternyata. Kalau ada yang mau bantuin nyumbang dana, bisa lewat sini. Thank you... ^_^


89 Project menerima donasi bagi siapa saja yang ingin berkontribusi pada produksi film Flickering Light. Seluruh dana yang diterima dari para donatur 100% akan digunakan untuk membiayai proyek non profit ini. 

Donasi dapat dikirim melalui rekening Produser:
Robby Prasetyo
No. Rek. Mandiri 132 00 1030877 4
Kantor Cabang Pembantu (KCP) Jatinangor Univ. Padjadjaran

Setelah memberikan donasi, mohon melakukan konfirmasi via email. Laporan penerimaan donasi akan dipublikasikan melalui blog sebelum proses syuting dimulai (9 Desember 2010)

Sekian dan terimakasih :)



We ourselves feel that what we are doing is just a drop in the ocean. But if that drop was not in the ocean, I think the ocean would be less because of that missing drop. I do not agree with the big way of doing things. -Mother Teresa-

Iseng-iseng ga ada kerjaan..
Ga tau juga mau nulis apa..
Saya pamerkan saja beberapa foto riset visual kemarin ya..
Sayang kan, udah cape foto-foto, ga dipamerin.
huehehehe..

Jadi..
selamat menikmati..


Catatan Shot

Look down

Makan siang

Bawa bekal

Nunggu jemputan

The Photographer

Jaga barang

Ngerumpi :p

Setelah rangkaian kegiatan reading selesai, hari Minggu (14/11) lalu kru 89P melakukan riset visual.
Para kru mengunjungi beberapa (calon) lokasi syuting, antara lain Cisangkuy, Taman Ganesha, Lapangan Sekeloa, Gedung Pascasarjana Unpad, dan rumah Citra (yang akan dijadikan lokasi rumah Adhel).

Di sana, Bicky (scriptwriter & director) menjelaskan adegan di lokasi tersebut, menjelaskan gambar seperti apa yang ia inginkan, sekaligus berdiskusi dengan Fadhli (Director of Photography) untuk mendapatkan angle terbaik. Yuki (Art Director) juga tak ketinggalan menyimak karena dia bertugas menyiapkan setting tempat agar tampil cantik *deuh, bahasanya!*

Yuki dan Eca (Set & Props) bantuin memperagakan adegan Adhel dan Tama di taman
Fadhli mengarahkan Lutfi (Camera Dept. Crew), ditemani Puput (Asisten Fadhli) dan Bicky
Fadhli mengambil gambar over shoulder
"Kayak gini, Bic?" tanya Fadhli
Kru lain yang hadir saat itu adalah Robby (Producer) dan Lisma (Location Manager).  
Putu (Makeup and Wardrobe) sempat datang tapi ia pamit duluan.



Seharian itu kru berjalan-jalan.
Meski sempat dihadang hujan, secara keseluruhan riset visual berjalan lancar dan sesuai rencana.

So.. what's next?
*kasih tau gak ya? kasih tau gak ya? :D*

Lihat saja nanti ;)



-Sintamilia-
Dept of Behind The Secene



Your film crew becomes your extended family (although maybe a dysfunctional one). You spend many days and night together —through good and bad times — so hiring people who are passionate about your project and willing to put their all into it is important

Source:
Quote: Filmmaking For Dummies - Bryan Michael Stoller
Image: The Purple Airedale

Minggu ini sudah terlaksana lagi dua kali reading. Kamis (4/11) lalu adalah hari ketiga reading. Kiky (Astrada 1) tidak hadir. Meskipun begitu, kru dan pemain masih bisa menggunakan rumah tante Kiky sebagai tempat reading. Makasih, tante… :)

Steva (Astrada 2) yang sempat absen di reading kedua lalu, minggu ini selalu hadir menemani Bicky (sutradara) dan membantu mengarahkan pemain.

Pemain yang hadir hari Kamis itu adalah Uzi (pemeran Tama), Tia (pemeran Adhel), dan Anne (pemeran Chintya). Lucunya, yang di eksplor hari itu hanya satu scene, yang pemainnya cukup Tia dan Anne saja. Jadilah Uzi cuma nganggur dan nonton. Hihihihi..

Bicky mengarahkan Anne dan Tia
Pemeran Chyntia dan Adhel latihan berdialog

Keesokan harinya, Anne absen. Reading difokuskan pada adegan antara Tama dan Adhel saja. Scene yang dibahas cukup berat dan penuh emosi. Tia bahkan sampai nangis sungguhan untuk menghayati adegan marah sambil nangis (tapi tetap saja, begitu “action”, di tengah-tengah dialog Tia lupa dan akhirnya malah ketawa-tawa. Hahahaha…)

Tama mengaku pada Adhel tentang rahasia yang selama ini ia sembunyikan
Nangis

Ternyata mereka masih perlu latihan lebih banyak. Bicky dan Steva pun lalu memutuskan untuk menambah waktu reading. Setelah mencocokkan dengan jadwal Uzi dan Tia, mereka sepakat akan reading lagi hari Selasa, 9 November. Wew. Tetap semangat!



-Sintamilia-
Dept of Behind The Scene



Rasanya ingin menulis, tapi menulis apa, belum ada ide. Mari sama-sama kita pikirkan aja gimana? Kalau ada yang punya usul, tolong tunjuk tangan yah. Thank you ^_^.

Nah, sambil nunggu usulan yang bagus, izinkan gw bicara ngelantur. Minggu ini sangat menarik, bukan karena gw ga jadi ngumpulin proposal skripsi yang cuma 2 halaman ituh (sementara temen2 lain smpe 17-an halaman T_T).

Juga bukan karena gw menemukan bahwa Kunimitsu (komik politik yg sedang gw baca) tamat di jilid 29, (hehe, gw ngintip uda tamat blum tuh komik). Soalnya bete juga klo mesti nunggu berbulan2 untuk baca jilid selanjutnya, tar keburu lupa feel-nya, hwahaha.

Bukan, bukan karena itu. Seandainya pun kemarin gw ketimpa duit 2 juta, gw rasa minggu ini ga akan sebegitu menariknya hanya karena itu. Klo ketimpa Honda Civic automatic lain jadinya, gw pasti mati, wakwakwak.

Minggu ini begitu menarik, karena besok gw akan reading (naskah Flickering Light) bersama teman2.

Di sana akan ada Tama (Uzy), Adhella (Tya), Chyntia (Anne), dan Iyan (Rachim). Mereka talent2 hebat yang dijerumuskan oleh orang2 hebat pula.

Gw juga sangat senang, karena kunjungan santai gw ke tempat Tama kemarin menghasilkan sesuatu yang ga terduga. Pen-dialog-an Tama semakin membaik secara signifikan. Gw sendiri sampai kaget, “apa yg udah terjadi!” (*gaya lebay ala kartun jepang).

Di luar iseng buka2 naskah, kita banyak ngobrol. Ternyata Tama berusaha menghapal dialog yang ada. Dy bergumam sambil bernapas, dy berekspresi sambil menyisir, dy nyeletuk di tengah pembicaraan dengan teman2. “tau ga...kenapa aku suka pantai...”.

And its worth it. Senilai dengan apa yang dia gumamkan, senilai dengan apa yang wajahnya perlihatkan, senilai dengan “apaan seh?!” dari teman bicaranya. Dy berusaha keras dan telah menunjukkan hasil yg baik. Dan semua itu baru hasil dari “menghapal”.

Apa jadinya kalau dy mendapat pelatihan yg seharusnya. Pelatihan pernapasan, olah vokal, olah ekspresi, pembangunan situasi, pembangunan suasana hati. Dy akan benar2 menjadi Tama!

Dan di titik ini gw ikut membayangkan, di tempat yg berlainan, Adhel, Chyntia, dan Iyan, melakukan hal2 yg ga kalah hebatnya. Mereka pasti juga berusaha dengan keras.

Gw membayangkan Adhel duduk termenung, memandang ke luar jendela di pojokan kelas saat kuliah, dan berusaha menitikkan air mata. Lalu saat temen di sampingnya khawatir dan berusaha menoelnya, Adhel menepis dan berkata “Cukup Tama! Aku butuh waktu...”, (temannya pun kebingungan).

Gw membayangkan Chyntia di kampus, melihat kursi panjang, Chyntia melangkah pelan dan duduk perlahan, lalu menoleh ke samping dan berkata “Adhella sayang... tau ga sih lo. Di dunia ini tuh...”, siapapun yg ada di sampingnya saat itu.

Gw membayangkan Iyan sedang beres2 kertas skripsi di kosan, lalu ada orang ngetok pintu, Iyan menoleh, nunggu orang itu masuk, lalu “Woy, Tam. Eh siapa nih? Tumben amat lo bawa temen ke sini”, ga peduli, siapapun yg masuk ke kamarnya itu, walau orang itu sendirian.

Membayangkannya saja udah membuat gw terharu. Maaf gw belum sempat mengunjungi santai kalian minggu ini. Tapi gw sangat berterima kasih atas kerja keras dan komitmen kalian di Flickering Light.

...

Walau (diputuskan) Sinta yang mengandung janin Flickering Light ini, kalian lah yang akan melahirkannya. Dan yg sedang kalian lakukan saat ini adalah membangun gizi, nutrisi, dan kondisi tubuh. Agar bayi yg kalian lahirkan kelak, menjadi karya yg cantik dan menggemaskan.

Kemarin gw sempat terlibat suatu pembicaraan dengan Tama. Dan kita (secara implisit) sepakat, bahwa kita tidak sedang menuju 21 atau Blitz, ataupun tur dari kota ke kota untuk penayangan Flickering Light. Kita tidak sedang menuju CD kompilasi film hemofilia yg mungkin akan ada nanti. Tidak juga menuju Hari Hemofilia Internasional tanggal 17 April tahun depan. Ataupun penghargaan2 dalam bentuk apapun.

Itu bukan tujuan kita... (membalikkan badan dan menatap mata kalian semua) (berbinar) (mengepalkan tangan di hadapan dada)

...

Mari kita menuju dunia, teman. Kita persembahkan Flickering Light pada dunia. Kita perlihatkan bahwa kita ada dan berbeda. Bahwa kita tidak diam dan telah melakukan sesuatu.

Mari... (mengulurkan tangan)

(Tama, Adhel, Chyntia, Iyan, dan yg lainnya menatap tangan gw sejenak)

(Tama, diikuti oleh Iyan, menyambut tangan gw, begitu juga Chyntia)

(sedangkan Adhel masih menatap sejenak lagi,)

(dan mengeluarkan payung...)



Wekekekekekek... peace ah ^_^v

(yg ga ngerti, tunggu aja tanggal mainnya, hehe)

_bickysukagapentingdeh_

Proses reading telah dimulai!
Hari Kamis-Jumat, 28-29 Oktober lalu, para pemain dan beberapa kru berkumpul di rumah tantenya Kiky untuk reading.

Di hari pertama, kegiatan difokuskan pada membaca dialog dengan intonasi. Dalam 4 jam reading (pukul 14.00-18.00 WIB), para pemain berhasil menuntaskan semua scene.

Suasana reading

(Memperkenalkan) Anne, pemeran Chyntia
Banyak makanan! :D
Di hari kedua, selain membaca dialog lagi, rencananya mereka juga mulai belajar mengeluarkan ekspresi. Tapi prakteknya malah lebih dari itu. Mereka langsung latihan akting.
Pemeran Tama dan Adhel latihan berdialog
Siapa yang panjang tangan? Heuheu...
Serius nonton yang lagi akting
Ceritanya Robby jadi rak buku, nih
Kiky jadi rak baju. Hohoho. Atau, jadi Mbak pramuniaga?
Reading hari kedua mulainya ngaret, dan selesainya pun ngaret. Hehehe.. Tapi lumayan, bisa menyelesaikan 18 scene. Untuk Uzi (pemeran Tama) dan Tia (pemeran Adhella), perlu reading 4x pertemuan lagi. Sementara untuk Rachim (pemeran Iyan) dan Anne (pemeran Chyntia) cukup 2x lagi saja. Oh ya, mereka juga dibiasakan dipanggil dengan nama perannya masing-masing supaya terbiasa. Jadi mulai sekarang kita panggil mereka Tama, Adhella, Iyan, dan Chyntia ya..

Pemeran orang tua Adhella dan anak kecil bernama Reza belum ditemukan nih. Dept. Penyutradaraan mulai pusing. Hmm.. ada yang bersedia bantuin?



-Sintamilia-
Dept. of Behind The Scene

Sesuai rencana, Jumat (22/10) lalu kru 89P menghadiri presentasi Lisma tentang bakal calon lokasi syuting yang telah ia cari. Kumpul-kumpul di Ngeumong ini (alhamdulillah) dihadiri oleh semua kepala departemen. 
Ini adalah  pertama kalinya (PERTAMA KALI!) semua kepala departemen (Director, Director of Photography, Art Director, Production Manager, & Director of Behind The Scene) berkumpul dalam satu kesempatan. Good. Semoga setelah ini, cita-cita Robby untuk mengumpulkan semua kru bisa tercapai (belum pernah nih ngumpul all crew 100%).

Lisma (Manajer Lokasi) sedang presentasi
Bicky (Sutradara), Kiky (Astrada 1), Steva (Astrada 2), Yuki (Penata Artistik), Laila (Manajer Produksi), dan Robby (Produser) jadi yang paling depan mengerumuni laptop, melihat foto-foto hasil hunting Lisma
Di bagian belakang ada Fadhli (Penata Kamera) dan Reza (Set & Properti). Hayo tebak, mereka menertawakan apa? :D
"Contekan" Lisma
Mendiskusikan penempatan kamera di lokasi
Alvi (Kru BTS) sempat hadir di akhir rapat, setelah dijemput Bicky :D
1.     
Jadi bagaimana hasilnya? 
Sebenarnya belum semua lokasi sudah ditemukan Lisma. 
Dari beberapa lokasi yang udah didapat, yang di-acc adalah lokasi rumah, lapangan, taman, dan tempat-tempat wisata (Tangkuban Perahu & Taman Kupu-Kupu). 
Lokasi yang lain? 
Cari lagi! Hehehehe…

Untuk lebih lengkapnya, kita tunggu laporan langsung Lisma aja ya.. :)




-Sintamilia-
Dept. of Behind The Scene


89P HIGHLIGHT


ShoutMix chat widget

FOLLOW US

89 PROJECT CREWs


PRODUCER

Robby Prasetyo

PRODUCTION MANAGER
Laila Ramdhini

SCRIPTWRITER SUPERVISOR
Lulu Fahrullah

SCRIPTWRITER & DIRECTOR
Bicky Perdana Putra

1st. ASSISTANCE DIRECTOR
Kiky Amalia Indria Furqon

2nd. ASSISTANCE DIRECTOR
Stevania Randalia Sembiring

DIRECTOR of PHOTOGRAPHY
Fadhli Ahmad

CAMERA DEPT. CREW
Muhammad Andhika Rahayu

CAMERA DEPT. CREW
Lutfi Muhammad

ART DIRECTOR

Yuki A. Nagarani

SET & PROPS
Reza Marza

MAKEUP & WARDROBE
Putu Ayu Andhira Santika

LOCATION & LOGISTIC MANAGER
Lisma Hardiyanti

SOUND RECORDIST
Rizky Indra Purnama

BOOMER
Immanuel Variant R.

EDITOR
Robby Prasetyo

DIRECTOR of BEHIND THE SCENE
Sintamilia Rachmawati

BEHIND THE SCENE CREW
Alvi Rahmawati

ADDITIONAL CREWs
Puput
Kasih Kisah
Ardhito Kristiono

Alam Jenuin D.
Iman Purnama

KOLOM PENDAPAT

!!! COMING UP NEXT !!!

!!! COMING UP NEXT !!!
Flickering Light casting | 1 - 3 Oktober 2010

ADMIN & KONTRIBUTOR BLOG 89 PROJECT