SAATNYA BERBURU BAKAT-BAKAT AKTING - [CLOSED]

Setelah lama menggodok cerita, INI SAATNYA!!! Kami mengundang bakat-bakat akting untuk mengisi peran-peran dalam film pendek berjudul DLICKERING LIGHT & menjadi keluarga besar 89 Project.

!!!CATAT!!!

1 - 2 Oktober 2010 @ Sekertariat PSM UNPAD - Dipatiukur Bandung | 09:30 - 16:00 WIB

3 Oktober 2010 @ Ngeumong cafe & library | Jatinangor | 09:30 - 16:00 WIB

jangan lupa ya kasih tau keluarga, ayah, ibu, kakak, adik, teman, tetangga, pacar... atau siapa saja.

Terima kasih atas dukungan & kunjungan Teman.

Salam Hangat - | 89 Project

HEMOPHILIA A to Z

(H)emophiliac adalah istilah yang dapat digunakan untuk menyebut orang penderita hemofilia.

(E)ngsel, adalah sendi pada lutut, pergelangan kaki, dan siku yang paling mudah rusak. Sendi engsel hanya mempunyai sedikit perlindungan tekanan dari samping. Karenanya, sering terjadi perdarahan di daerah-daerah tersebut.

(M)engabaikan memar dan luka pada penderita hemofilia bisa berakibat fatal. Semakin parah perdarahan, semakin banyak faktor pembeku yang diperlukan. Perdarahan tidak boleh dibiarkan karena pengobatannya akan menjadi berlarut-larut, lebih lama, dan lebih mahal.

(O)lahraga perlu dilakukan penderita hemofilia untuk menjaga otot dan sendi agar tetap kuat. Renang adalah olahraga dengan risiko sangat ringan yang banyak dianjurkan untuk para penderita hemofilia.

SELAMAT DATANG DI BLOG 89 PROJECT

Blog 89 Project akan mengajak kita masuk lebih dalam tidak hanya proses belakang layar film pendek berjudul "Flickering light" semata, namun akan lebih jauh mengetahui informasi tentang hemofilia, atau fakta-fakta menarik tentang dunia "darah".

Blog ini didedikasikan sepenuhnya untuk menunjang penyebarluasan informasi tentang 89 Project dan hemofilia.

Terima kasih atas dukungan & kunjungan Anda.

Salam Hangat - | 89 Project

SMITH STORY

"About seventy or eighty years ago, a woman by name of Smith, settled in the vicinity of Plymouth, New Hampshire, and transmitted the following idiosyncrasy to her descendants. It is one, she observed, to which her family is unfortunately subject, and had been the source not only of great solicitude, but frequently the cause of death. If the least scratch is made on the skin of some of them, as mortal a hemorrhagy will eventually ensue as if the largest wound is inflicted. (…) So assured are the members of this family of the terrible consequences of the least wound, that they will not suffer themselves to be bled on any consideration, having lost a relation by not being able to stop the discharge occasioned by this operation." -(Otto JC. The Medical Repository. 1803;Vol VI (No 1):1-4)-

ROYAL DISEASES

Hemofilia seringkali disebut dengan "The Royal Diseases" atau penyakit kerajaan. Ini di sebabkan Ratu Inggris, Ratu Victoria (1837 - 1901) adalah seorang pembawa sifat/carrier hemofilia. Anaknya yang ke delapan, Leopold adalah seorang hemofilia dan sering mengalami perdarahan. Keadaan ini di beritakan pada British Medical Journal pada tahun 1868. Leopold meninggal dunia akibat perdarahan otak pada saat ia berumur 31 tahun. Salah seorang anak perempuannya, Alice, ternyata adalah carrier hemofilia dan anak laki-laki dari Alice, Viscount Trematon, juga meninggal akibat perdarahan otak pada tahun 1928.

SUDAH MEMILIKI OST

"The journey" telah resmi jadi Original Soundtrack Flickering Lighy. Lagu ciptaan Hetza Fadilah atau lebih akrab di panggil Eca ini memang dipesan khusus. Bersama rekan duo dalam "The Foppish", Ari (Ari Toma) berhasil menterjemahkan FL dalam rasa yang berbeda, lirik dan melodi.

Lagu lain yang akan tak kalah oke adalah "Unreal Hope". Bertema kegalauan, Unreal Hope menjadi representasi perasaan Adhella yang paling dalam

Untuk mengunduh, silahkan Klik ikon di side bar

>THE FOPPISH FANS PAGE

Salam Hangat - | 89 Project


Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 5 Maret 2011. Yaps, bekerjasama dengan liga film mahasiswa – Institut teknologi Bandung, 89 Project menggelar premiere Flickering light, film pendek yang telah diupayakan tak kurang dari 9 bulan lalu. Gelaran premiere yang masuk dalam program “Ganesha exebition programme” (GEP) milik LFM tak hanya menghadirkan Flickering light saja, namun ada 2 film dokumenter pendamping, yaitu Tetes cinta hemofilia buatan Source of Indonesia (Medan) & Mamaku pahlawanku karya Ibu Hotnida beserta putra tersayang yang merupakan penderita hemofilia (Jakarta). kemeriahan GEP tak berhenti di gelaran premiere FL (Flickering light), namun ditambah dengan premiere 2 film pendek karya LFM-ITB sendiri yaitu The Inspiration & Tre(s)no, plus screening film omnibus karya Dienan Silmy, Rozi MF, Irfan Hendarmin, Muham Novianto, Dayo Sesario.


89 PROJECT SHOWTIME
Rangkaian GEP dengan tema “Premiere” mulai membuka pintu untuk pengunjung jam 15:30 WIB. Meski Bandung sempat diguyur hujan, namun minat pengunjung atau dalam hal “Premiere” lebih asik disebut penonton tak berkurang, perlahan berdatangan dan mulai memenuhi R. Bioskop 9009 ITB, entah karena free pass, film-film yang akan tampil atau snack & pop corn gratis dari teman-teman panitia LFM, ya mungkin semuanya.

Gelaran pertama tentu rangkaian dari 89 Project. Pertama diputar adalah film dokumenter asal Medan hasil kerjasama Source of Indonesia (SoI)& Family supporting Group Tetes Cinta Hemofilia (TCH). Dalam waktu 14 menit, TCH memaparkan hemofilia secara ringkas dengan gaya dokumenter yang apik, maklum, SoI bukanlah pemain baru di bidang documentary. Setelah “pemanasan” penonton cooling down dengan penampilan duo, The Foppish yang tak lain dan tak bukan pengisi OST FL. Satu lagu mengharu biru berjudul “Unreal Hope” mengantar penonton menuju film utama, Flickering light. Meski durasi putar FL menuju ambang batas sebuah film pendek, yaitu 27 menit & 39 detik namun antusias penonton cukup besar, setidaknya lebih dari setengah kapasitas R. Bioskop 9009 terisi. Sayang memang, tata suara yang terdengar tidak sebaik yang diharapkan, entah karena dari audio FL kurang mumpuni atau tata suara ruangan yang memiliki gaung cukup tinggi. Ketidaknyamanan ini membuat beberapa bagian film terasa tidak jelas secara audio. Sekalian saja, Kami dari 89 Project meminta maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini. Namun syukur, meski begitu penonton bisa menangkap apa maksud dari FL, setidaknya beberapa penonton awam (di luar kru) bisa merasakan aura kisah Tama dan Adhella, ada juga yang mengatakan “Ada 2 adegan yang bikin merinding...” (merinding karena keren, atau merinding karena kedinginan.. entahlah). FL memang tidak menitik beratkan pada kepadatan informasi akan hemofilia namun lebih ke satu sisi hubungan relationship penderita hemofilia melalui representasi Tama (penderita hemofilia) dengan calon istrinya Adhella.  Bagaimana hemofilia bisa saja menjadi penghalang atau justru sebaliknya menjadi penguat tali kasih mereka. Satu sajian yang berusaha menginspirasi setiap hubungan dan arti memperjuangkan cinta.

FL selesai diputar sekitar jam 5 sore lewat. Nuansa haru biru di refresh kembali oleh penampilan The Foppish lewat 2 lagu “Cow boy”, satu lagu lain (Saya lupa judulnya) dan berakhir dengan lagu “The journey”, lOST FL. Tentu tak lengkap jika “Premiere” tanpa ada “Pertanggungjawaban” dari para filmmaker, maka sesi diskusi dimulai dengan moderator dari teman-teman LFM. Diskusi terarah baik. Mengupas tentang proses pembuatan dan seluk-beluk cerita, proses, hingga pembuatan lagu, semua di bahas singkat dan padat. Bahkan pertanyaan tentang Hemofilia sendiri cukup banyak, mengingat orang-orang yang menjadi nara sumber bukan hanya dari kru film tapi dari pihak Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia, lembaga yang menaungi hemofilia tingkat nasional melalui perwakilan Mas Agustama. Rangkaian acara 89 Project diakhiri dengan penayangan video dokumenter amatir buatan Ibu Hotnida beserta putranya yang mengidap hemofilia. Meski durasi tak lebih dari 7 menit, film berjudul Mamaku pahlawanku menjadi closing penuh emosional, meski lagi-lagi harus terkendala masalah tata suara. Acara break sekitar pukul 18:00 untuk kembali menayangkan Film-film Premiere  pada pukul 19:00 WIB

LFM IN ACTION
Maaf-maaf saya sedikit telat masuk ruangan dan film The Inspiration telah dimulai beberapa menit lalu. Bercerita tentang Bayu yang kehilangan inspirasi  ketika hendak membuat film, ya bagi penggiat film hal macam ini sangat dekat sekali, dimana ingin berkarya tapi ga punya ide. Beruntung Bayu memiliki teman Anes (kalo tidak salah) yang mengajaknya ke dunia penuh imajinasi. Membuka pemikiran Bayu akan hal-hal unik, lucu dan penuh warna. Nanda Ekaputra Panjiarga selaku sutradara berhasil mengantarkan The Inspiration mencapai sesuai judul, coz memang mengantarkan inspiratif ke setiap penonton.

Next on, Tre(s)no, kisah komedi romantis memang biasa, namun ditangan Fikri “Pii” Gustin, pengemasan cerita menjadi unik dan berhasil mencampur komedi dan romantisme, penuh dengan adegan-adegan mengundang tawa namun disisi lain bisa membuat kita terrenyuh akan keromantisan Sam (tokoh utama) ke Puspa (tokoh utama juga). Belum lagi ending nyeleneh antara pengen ketawa dan bilang “so sweet”. Jadi Sam adalah pria asli Jowo, yang percaya sama takhayul dan segala ramal-ramal mulai dari barat sampe timur. Sedangkan Puspa, adalah gadis periang yang nampaknya tidak peduli semua itu, dan memiliki hobi fotografi. Keduanya mengikuti perjalanan hunting fotografi dari Bandung – Semarang – Bandung (Kutipan dari laman kineklub.lfm-itb). Dalam deretan pujian untuk Tre(s)no, terselip pertanyaan minor, "kanapa harus ada tanda kurung pada judul?".

Diskusi mulai bergulir, para filmmaker tampil untuk “pertanggungjawaban”. Banyak apresiasi untuk kedua film tadi, dan secara proses produksi The Inspiration &“Tre(s)no” sangat indie namun dapat bertutur dengan cerdast. Satu cahaya kebahagiaan pada akhir diskusi, bagi-bagi DVD Tre(s)no dengan menjawab beberapa pertanyaan seputar film, sayang sekali saya tidak dapat DVDnya :-(.

ci(N)ta LAST PREMIERE
Agak miss mungkin dengan tema “PREMIERE – RED CARPET”nya GEP sekarang coz ci(N)ta telah Premiere di Blitz Jakarta. Tapi ya sudahlah anggap saja ini Premiere Bandung. Usai diskusi film karya LFM saatnya menonton ci(N)ta, upsss.... maaf sebelum itu ada sajian penyela terlebih dahulu, serangkaian “iklan” yang agak lama. Waktu menunjukan pukul 20:00 lewat dan film baru berjalan. Sekali lagi mohon maaf saya lupa urutan film apa saja. Memang ci(N)ta adalah film omnibus, film gabungan antara 5 film pendek yang semua memiliki tema cinta namun tentu dengan cerita & pengemasan berbeda dari 5 sutradara berbeda pula. Wah pasti akan cukup panjang kalau saya ceritakan satu per satu, maka saya ambil rangkumannya dari bicarafilm.com.

“Cinta itu tidak perlu bicara, maka orang bisu pun bisa melakukannya, seperti yang dikisahkan dalam film Lukisan Keabadian dan Notes. Belajar dari sejarah cinta tak pernah mengenal kata terlambat seperti diceritakan dalam film Meraih Cinta. Cinta itu tidak akan pernah mati termasuk saat obyeknya sudah tak lagi ada, seperti dalam film Aneurisme Serebral dan Elegi Nacita. Satu demi satu kisah bergulir, membentuk sebuah harmoni kehidupan yang satu persatu semuanya bermuara akan cinta yang diagungkan dalam film ini.”

Daya tarik terbesar ci(N)ta justru bukan dari filmnya (IMHO) tapi dari nama “Hanung Bramantyo” yang selalu tersemat dalam setiap publikasi. Benar sekali, kelima sutradara muda penggagas ci(N)ta adalah lulusan workshop Hanung, jelas saja secara kualitas gambar dan teknis sangat2 baik, apik, rapi dan clllliiiing. Aga berbeda karakter kualitas dengan semua film yang main sebelumnya.. Untuk kesekian kali saya harus meminta maaf karena tidak dapat mengikuti sesi diskusi bersama para sineas ci(N)ta jadi daripada salah, bijak jika saya tidak menulis tentang proses diskusi berdasarkan informasi orang lain. Hanya satu pertanyaan minor, "Kenapa konsep judulnya sangat mirip dengan cin(T)a, padahal untuk ranah indie menurut saya strategi dumping macam itu sangat tidak pas. Namun apakah ci(N)ta termasuk indie atau tidak itu juga masih abu-abu, namun nyatanya ci(N)ta telah masuk ruang penayangan bercitarasa ke-Indie-an" (IMHO)

GREAT PREMIERE n THANKS TO...
Saya tidak menyangka penonton akan seheboh kemarin, minimal itu premiere terbaik selama “karir” saya. Terima kasih kepada Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi bandung untuk semua bantuan, mulai dari A-Z. Dari penjadwalan, ruangan hingga urusan konsumsi sekalipun. Meski teteplah itu tata suara sedikit mengganggu... hehehe Tapi sungguh, saya atas nama pribadi dan segenap keluarga besar 89 Project mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kerjasama yang baik.

Terima kasih ke semua undangan yang berkenan hadir dan seluruh penonton yang “terjebak” kehebohan publikasi kami. Terima kasih telah datang meski sedikit gerimis, terima kasih telah memberikan kami semangat untuk kembali melahirkan karya. Kami menyayangi kalian semua.

Mas Agustama yang telah berkenan jauh-jauh hadir dari Jakarta karena penasaran akan Flickering light. Tak lupa juga seluruh keluarga HMHI, YPH, dan penderita beserta keluarga hemofilia dimanapun kalian berada. Terima kasih banyak

Terakhir. Terima kasih sebesar-besarnya untuk semua pihak yang telah mendukung dan menyemangati 14 bulan bergulir produksi, melalui twitt, komen, like this, doa, harapan, relink, share link, diskusi, sharing, pertanyaan dan apapun yang telah diperbuat untuk 89 Project. Maka Flickering Light seyogyanya adalah milik kita bersama karena kita semua adalah bagian dari lahirnya karya ini.

Salam Hangat...

ROBBY PRASETYO
89 Project producer

Cukup lama serangkaian proses produksi yang hectic menyita waktu kami untuk dapat berinteraksi dengan sahabat-sahabat sekalian. Semoga sapaan hangat ini dapat menyegarkan suasana kembali.

19 Desember 2010, setelah 7 hari proses pengambilan gambar, 89 Project telah menyelesaikan lagi 1 tahap menuju penayangan untuk dunia. Komitmen & kerja keras segenap tim produksi telah dibuktikan. Segala apa yang bisa usahakan telah kami kerjakan, meski tak lantas filmnya menjadi karya paling sempurna, karena niscaya Kami masih dalam proses menuju pencapaian yang lebih baik.

Tak terkira dukungan dari teman-teman yang terus menjaga semangat kami selama tak kurang dari 9 bulan ini. Semangat yang membuat kami tak memiliki pilihan untuk mundur atau menyerah. Semangat yang menjadi pegangan satu-satunya ketika jatuh dan tertatih-tatih.

Untuk itu, semoga rasa rasa terima kasih yang tulus dari Saya pribadi & segenap tim produksi dapat menjadi “pembayaran awal” atas semua dukungan sebelum pada waktunya Kami akan persembahkan karya yang kita upayakan bersama, Flickering Light.

Warm Regards
Robby Prasetyo
89 Project Producer

Minggu (12/12) lalu adalah hari keempat syuting Flickering Light.
Scene yang diambil masih di kamar Adhel sampai siang, lalu sorenya berlanjut ke Kampus Fikom Unpad Jatinangor sampai malam.

Saya sendiri hanya hadir saat syuting di lokasi kampus.
Salah satu scene yang diambil adalah adegan di sekre HMHI (Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia). Kalau hari sebelumnya departemen Art menyulap sebuah ruangan luas di rumah Citra (teman Lisma- Location Manager) menjadi kamar Adhel, hari itu mereka juga mengubah Sekretariat EDGAB (English Discussion Group For Academic Purpose) menjadi sekretariat HMHI.

Dibantu yang lain, mereka ngangkut-ngangkut meja, lemari, buku-buku, dll. Hebohlah. Untung hari minggu. Jadi kampus sepi dan bebas diberantakin *eh? hehehe..

Syuting selesai sekitar pukul setengah sembilan malam. Para pemain dan sebagian kru langsung pulang. Sementara sisanya (termasuk saya) nongkrong dulu *sok gaul

Btw,
hari ini syuting libur.
Insya Allah dilanjutkan hari Jumat (17/12).


Seperti biasa..
foto-foto menyusul yaaah...! ^_^

Jadi..
sudah pada tahu kan, film apa yang akan diproduksi 89 Project?
ya, judulnya Flickering Light, tentang cinta seorang penderita hemofilia.

Saya mau bercerita.
*siapkan kopi dan cemilan ya :D*

Dulu.. saat kru 89P masih berempat (saya, Lulu, Robby, dan Bicky),
saat Lulu masih menjabat sebagai Scriptwriter (sekarang sudah diganti Bicky), sempat ada 3 ide yang Lulu keluarkan untuk diproduksi. Semuanya menarik. Tapi akhirnya kisah tentang 'cinta seorang penderita hemofilia'-lah yang kemudian di-acc dan ditindaklanjuti.

Waktu itu, Lulu merasa masih perlu riset lebih dalam untuk mengetahui, bagaimana sih kalau seorang hemophiliac 'berurusan' dengan cinta? bagaimana rasanya? bagaimana prosesnya (kalau sampai bisa menikah), bagaimanakah perjuangannya?

Akhirnya Robby pun menetapkan tanggal riset dan membuat janji dengan Mas Chandra, Ketua Yayasan Peduli Hemofilia. Rencananya, saya akan ikut dengan Lulu (BTS mode on :D).

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih *apa seh*
Beberapa hari menjelang wawancara, Lulu jatuh sakit.
Begitu juga dengan Robby (kompak banget -___-)

Robby pun akhirnya meminta tolong pada saya untuk mewakili Lulu wawancara sendiri. Whaaaaaaattt...??
Aduh.. saya kan pemalu.. :")

Andai ada Bicky, pasti enak.
Ada yang nganterin.
Tapi saat itu Bicky lagi di Jakarta.

Oh God, saya punya 3 "pacar" dan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menemani saya..
*nangis guling-guling lebay*
*ditimpuk mereka bertiga*

Tapi karena saya wanita (sok) kuat, maka saya memberanikan diri menemui Mas Chandra seorang diri.
Dag dig dug duer! Hehehe..

Ternyata Mas Chandra orangnya baik dan welcome.
Dia gak keberatan saat saya mengorek-ngorek kisah cintanya (tsaaah!)

Jadi ceritanya begini sodara-sodara..
Awal tahun 2005, sebuah koran terkemuka dari Jawa Barat memuat profil tentang Yayasan Peduli Hemofilia.
Seorang gadis SMA membacanya, dan tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Hemofilia.
Sang gadis lalu menghubungi dan menemui Mas Chandra.
Dari sana mereka berkenalan dan mengobrol.

Singkat cerita *jiaaaahh disingkat!*,
Setelah beberapa kali pertemuan, Mas Chandra merasa yakin "inilah jodoh saya".
Meskipun sempat khawatir ditolak karena keadaannya yang hemofilia dan berkursi roda (pernah mengalami perdarahan di lutut),
ia memberanikan diri 'nembak' dan diterima *Horeeee!*
Hubungan mereka tidak selalu mulus, tentu.
Ada saat-saat dimana sang gadis 'menghilang' untuk meyakinkan diri bahwa pilihannya tepat.

Keluarga sang gadis juga memiliki banyak pertimbangan.
Namun sang gadis berusaha meyakinkan keluarganya.
Pada akhirnya, keluarganya pun merestui pilihan sang anak, demi kebahagiaannya
*oh so sweet*

Bulan September 2006, Mas Chandra melamar, dan diterima *Alhamdulillah..*
Mereka menikah tanggal 14 Januari 2007.

Sekarang mereka sudah punya satu anak perempuan :)


Kalau mau tahu cerita dari Mas Chandra nya langsung, ke situs hemofilia nya aja.

Jadi, bagaimana?
Menarik, bukan?

Bahwa menjadi seorang penderita hemofilia juga mencinta,
berhak dicintai,
bisa menikah dan memiliki keturunan,
bisa hidup berkeluarga dengan bahagia,
sakinah, mawadah, warohmah.
Amin :)





Sumber gambar : Don't touch my moleskine


Catatan Harian Orang Kesurupan


"The Proposal"



Sesungguhnya ini adalah tulisan pesanan Director of BTS, Sintamilia. One day, Sinta told me, sebenernya gw pengen banget lo nulis curhatan tentang 89 Project. Dan saat itu gw berpikir, wah ide bagus tuh, karena kebetulan belum ada tulisan seperti itu d 89 P. Jd, ga perlu basa basi. Here...We...Go!!!

Gw dengan senang hati memulainya dari proses “pelamaran”. Gw lupa tepatnya kapan di bulan apa, tapi saat itu 89 P baru terdiri dari 2 org dedengkot film di Fikom Unpad. Yaitu Robby Prasetyo (master of editing, directing, n graphics) dan Lulu Fahrullah (master of script writing, directing, n leading a project).

Dan mereka sudah ga diragukan lagi adalah sutradara-sutradara handal debutan Cinematography Club Fikom Unpad (CC). Dan yg membuat gw bingung adalah: 2 orang sutradara handal, berkumpul, dateng ke kosan gw, mencari seorang sutradara. (what the hell happening?)

Trnyata yg merekomendasikan gw adalah Lulu, yg didasarkan pada film panjang CC yg gw sutradarai, “X” [cross], yg sbenernya film tersebut gagal selling, jadi hanya org2 tertentu aja yg beruntung sempet nonton film itu sebelum menghilang dari dunia.

Sebelum memiliki nama, kita menyebut kerjaan ini “proyek sangat serius”. Sebutan yang sangat menarik, karena sesungguhnya selama di CC gw belum pernah sempet “sangat serius”. Dan jujur aja, bahkan film “x” [cross] sendiri, gw sangat merasa masih belajar penyutradaraan di situ, (sorry Gita, produser film “x” [cross], hehe ^_^v).

Awalnya gw ngeri. Karena 1, ini proyek sangat serius, 2, gw ga kepikiran “sangat serius” itu seperti apa, ‘cause kehidupan gw sejak bayi selalu diilhami kata “santai”. Tapi ada 2 hal jg yg membuat gw berani maju.
Robby berani meyakinkan bahwa kita akan bekerja dengan tim terbaik. DOP terbaik, astrada (asisten sutradara) terbaik, camera person terbaik, script writer terbaik, art director terbaik, peralatan terbaik, dan crew terbaik.

Kedua, masa persiapan yang sangat-sangat panjang. Satu dari beberapa hal yang ga pernah gw liat di CC. (CC selalu ngebut kalo bikin proyek T_T). Hal itu melegakan gw, karena gw merasa film ini akan dipersiapkan dengan sangat amat matang sekali, sebelum kita memulai proses merekam di lapangan.
Lagipula, di sana ada Lulu, ada Robby, what else that world need to be a good director?
Gw terima, dengan deg-degan, bergejolak, dan sangat bergairah.

Sejak saat itu gw bertekad, ini bukan lagi latihan dan persiapan, ini adalah perang. CC build me in the last 3 years, now i’m ready, and won’t make CC disapointed in me. Ini akan jadi film terbaik gw, film yang akan gw perlihatkan dengan bangga kepada dunia.

Dan terakhir, sesungguhnya gw sangat berharap, kalau film ini akan menunjukkan kemana gw harus pergi dan memijak. Meyakinkan gw bahwa tanah yang gw injak saat ini tidaklah serapuh yang mereka bayangkan. Bahwa gw ada di sini, dan akan menghasilkan sesuatu.

the end?
you wish..
 
tobe continue
 

Ini bukan press release! Hanya sekedar catatan produser saja.

Kalo dipikir sudah sekitar 3 bulan dari kali pertama 89 Project release yang tepat bersamaan dengan dimulainya script development. Perjalanan yang cukup melelahkan n membosankan berkutat di cerita pindah ke riset ke cerita lagi ke riset lagi dan begitulah, demi merangkup hemophilia dalam 6 halaman naskah bertitle “Flickering Light” berdurasi tak lebih dari 30 menit saja.

Beda banget dengan story development film-film fiksi yang pernah saya buat. Banyak “kelogisan cerita” yang mau tidak mau harus di jaga. Yapz ini bukan film fiksi biasa, namun film fiksi yang dibangun atas kejadian real, fakta n riset dibalut alur dramatika percintaan yang tentu tak biasa. Itulah tantangan terbesar kami dari aspek cerita.

Mari kita fokus ke story developing “Flickering Light”. 
Seperti lansiran post sebelumnya, tanggungjawab penulisan naskah berada pada Lulu Fahrullah. Namun sekitar sebulan menulis, Lulu terpaksa ter-resuffle, posisinya naik jadi Script supervisor dan penulis naskah berpindah ke Bicky Perdana sang sutradara. 

Proses transisi tidak mudah. Ada pepatah “lain tangan lain hasil” (itu sebenernya pepatah saya sendiri..heheheh). Taste berbeda, style penulisan berbeda, cara kerja berbeda, pokonya beda lah, walhasil proses penulisan sedikit terhambat, tapi..tapi…tapi… All iz well. Semua masih berjalan sesuai timeline…fuihhhh.

Bicky memulai dari sinopsis yang Lulu serahkan. Banyak debat n diskusi, setidaknya ada 6 kali pertemuan. Ada aja hal yang harus diperdebatkan, mulai dari kontent cerita, setting, dialog bahkan nama tokoh menghiasi diskusi2 alot. Lokasi diskusi pun nomaden biar meminimalisir kebosanan melihat kru itu-itu saja. Kalo sedang “miskin” pilihan pasti di kostan pa Sutradara, namun kalo lagi pengen nguras dompet, “Remo ” bisa jadi tempat yang cocok.
Mendiskusikan cerita di Ngeumong Cafe


Dalam rentang 3 bulan, draft demi draft dijalani. Terjadi 5 kali revisi n biasanya revisi itu merubah 20%-30% cerita sebelumnya. Ya itu tadi, mensinkronkan fakta, imajinasi n artistik bisa bikin orang mudah stress walhasil mood kru naik turun, selalu bikin jantung berdebar apalagi menjelang deadline. 

Ngomong-ngomong deadline, dengan segala kerendahan hati n puji syukur, meski tantangan ga mudah, Alhamdullilah “Flickering Light” selesai dan sudah disahkan menjadi final draft pada hari Senin 23 Agustus 2010 pukul 3:32 dini hari, tepat sebelum santap sahur di kediaman saya.

12 Halaman, 6 lembar, 21 scene, 2 pemain utama, dan 15 lokasi siap memasuki tahap paling krusial dalam produksi film fiksi yaitu “BREAKDOWN SCRIPT” fffuuuiihhh.. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan ridhoNya untuk 89 Project. Amin!!!

-Robby Prasetyo-


89P HIGHLIGHT


ShoutMix chat widget

FOLLOW US

89 PROJECT CREWs


PRODUCER

Robby Prasetyo

PRODUCTION MANAGER
Laila Ramdhini

SCRIPTWRITER SUPERVISOR
Lulu Fahrullah

SCRIPTWRITER & DIRECTOR
Bicky Perdana Putra

1st. ASSISTANCE DIRECTOR
Kiky Amalia Indria Furqon

2nd. ASSISTANCE DIRECTOR
Stevania Randalia Sembiring

DIRECTOR of PHOTOGRAPHY
Fadhli Ahmad

CAMERA DEPT. CREW
Muhammad Andhika Rahayu

CAMERA DEPT. CREW
Lutfi Muhammad

ART DIRECTOR

Yuki A. Nagarani

SET & PROPS
Reza Marza

MAKEUP & WARDROBE
Putu Ayu Andhira Santika

LOCATION & LOGISTIC MANAGER
Lisma Hardiyanti

SOUND RECORDIST
Rizky Indra Purnama

BOOMER
Immanuel Variant R.

EDITOR
Robby Prasetyo

DIRECTOR of BEHIND THE SCENE
Sintamilia Rachmawati

BEHIND THE SCENE CREW
Alvi Rahmawati

ADDITIONAL CREWs
Puput
Kasih Kisah
Ardhito Kristiono

Alam Jenuin D.
Iman Purnama

KOLOM PENDAPAT

!!! COMING UP NEXT !!!

!!! COMING UP NEXT !!!
Flickering Light casting | 1 - 3 Oktober 2010

ADMIN & KONTRIBUTOR BLOG 89 PROJECT