Pembenci Gerimis

Diposting oleh bickytampan Jumat, 22 Oktober 2010


Minggu ini dipenuhi oleh berbagai keanehan. Adalah gw selalu mendapatkan diri gw basah kuyup kehujanan di atas motor sepulang dari Bandung (menuju Jatinangor). Gw mual ketika makan Sambal Ayam Goreng ABC, yg sebelumnya sangat gw suka. Dan yg paling aneh adalah, gw jadi rajin nyuci baju, (astaga! Adakah benar kiamat sebentar lagi?).


Belum selesai sampai di situ, gw kehilangan hasrat untuk ngebut, dan ga habis makan dua bungkus mie (?). (orang yg lama kenal gw sudah biasa liat gw makan dua bungkus mie sekaligus). Apa yang sebenarnya terjadi? Itu cuma pertanyaan formalitas, karna sebenarnya gw tau apa yg sedang terjadi.

Terjun Bebas
Dimulai dari sebulan belakangan gw memutuskan untuk mengganti playlist winamp dengan lagu2 sedih, romantis, mellow bercucuran air mata. Nama2 SUM41, Limpbizkit, The Cure, Metallica terbang ditendang Tere, BCL, Lifehouse, dan Beyonce.

Awalnya terasa sangat aneh, sangat tidak gw. Tapi gw rasa ini harus dilakukan. Ga cukup hanya dengan membayangkan Tama dan Adhella adalah pasangan yang romantis. Gw harus romantis. Ga cukup hanya memikirkan Adhella harus mampu meneteskan air mata kesedihan tingkat tinggi. Gw harus ada di dalam kesedihan itu.

Ga disangka Tere dkk menampakkan hasil. Gw mulai kehilangan antusiasme untuk ngebut. Dunia ini begitu damai, ternyata naik motor dengan santai itu menyenangkan, sempat melihat pemandangan, melihat orang2 yg jalan di tepian, melihat tulisan2, merasakan angin yg berhembus lembut, sangat damai.

Langkah selanjutnya gw pun mengganti genre film tontonan. Biasanya gw beli dvd senggol bacok (slasher), peluru terbang2, lompat pager dobrak kaca (action), dan mba2 nyisir rambut di atas pohon (horror). Owh God, i love horror.

Gw sangat anti dengan film drama, terutama drama percintaan. Film drama cinta itu sangat bullshit, you know, karna selalu berakhir dengan happy ending, dimana gw ga bisa mencapainya (curhat). Tapi sekarang ada perbedaan, gw nonton Eternal Sunshine, (500) Days of Summer, If Only, Wicker Park, dkk.

Terus, apa hubungannya dengan Sambal Ayam Goreng ABC, dua bungkus mie sekali makan, dan nyuci baju. Gw ga tau pasti, tapi yang jelas hal2 tersebut baru muncul sebulan terakhir. Mungkin semacam side effect, i don’t know.

Karena Sebenarnya
Gw merasa, ga mungkin bisa membawa feeling romantis kalau tontonan gw bacok2an mulu. Sedangkan Flickering Light adalah film romantis, yang juga harus membawa sedih mencekat di batang leher. Membawa perjuangan dan harapan, sekaligus sentuhan lembut menuju hati, di balik senyum sejuta makna Tama.

(hem...owkay, tantangan pertama adalah, bagaimana membuat Uzy “senyum sejuta makna”, dia orang na terlalu cool sih -_-‘), (bukan iri loh maksudnya..)

Gw merasa Flickering Light adalah film indie pertama bagi gw, yang sangat heboh dalam publikasi dan sounding. Ini menjadikan gw sangat amat was-was sekali untuk meramu setiap adegan dan perasaan. (yang berikut ini berlebihan).

Gw juga merasa, Flickering Light adalah film yang ditunggu-tunggu dunia. Sesuatu yang sudah menjadi sorotan sejak dalam kandungan. Bukan cuma kandungan, bahkan proses pembuatannya pun sangat diperhatikan banyak orang. (tolong jangan bayangin yg macem2, ini tentang film loh).

Ini yang membuat gw (lagi2) merasa, bahwa Flickering Light adalah anak kita (89 Project), yang memiliki paman di seluruh penjuru mata angin. Bibi juga, untuk yang perempuan. Bahkan Flickering Light sudah memiliki beberapa fans, belum juga lahir (astaga).

Ini adalah hati gw, yg sangat senang mendengar ratusan senyuman dan jutaan penantian. Dan ini adalah jantung gw, yang intensitas berdetaknya kini kurang terkoordinir dengan baik. Dan ke atas sedikit adalah otak gw, yang sedang dibolak-balik untuk mencari celah “apa yang kurang”, “bagaimana caranya”, dan “sudah maksimalkah ini”.


Penantang Hujan
Dulu semasa kecil (di Jakarta), gw senang sekali main hujan-hujanan, juga banjir-banjiran, pada saat banjir beneran. Gw senang membersihkan rumah setelah kebanjiran, dengan tumpahan air dan sabun yang melimpah, membuat lantai jadi licin banget, seru. Pokoknya, saat itu gw sangat bersahabat karib dengan air.

Kota Bandung dan Jatinangor (sebelah timur kota Bandung), tempat dimana gw pindah sementara untuk kuliah. Awalnya gw sangat senang dengan kota ini karena hawanya sangat sejuk, bahkan di musim kemarau terpanas sekalipun. Itu sebelum gw mengenal musim hujan di kota Bandung.

Hal yang sangat mengejutkan adalah, air di tempat ini sangat dingin sekali. Begitu juga dengan gerimis yang terjadi. Perlahan tapi pasti, gw mulai menyadari kebencian gw terhadap “dingin”, “kedinginan”, dan segalanya perihal dingin.

Di saat itu gw sama sekali kehilangan logika yg menghubungkan “gerimis” dengan “romantis”. Ga make sense beromantis ria di saat es2 cair berjatuhan tipis2, disertai angin refigerator (entah punya siapa) yang nusuk pori2.

For God sake, dimana kita bisa menempatkan frasa “romantis” di tengah penderitaan semacam itu? Dan kabar “baiknya” adalah, atas andil global warming yang menyebabkan perubahan iklim, saat ini hujan turun hampir sepanjang tahun di Bandung.

Thanks God, you know very well which thing i hate the most. Dan hal tersebut juga berhasil menggoyahkan keyakinan gw bahwa neraka itu hanya api.

Gw mulai beli banyak jaket, biasanya merah, merampok banyak selimut, dari rumah, dan mengoleksi jas hujan, (sekarang udah rusak semua). Itu sampai dua tahun yang lalu. Atau dengan kata lain, sejak dua tahun yang lalu, gw mulai berhenti mengganti jas hujan yg rusak.

Berhenti mengganti ponco yg robek. Berhenti tidur diselipan selimut2 tebal (jika ga diperlukan). Dan berhenti menghindari gerimis dan hujan. Gw sangat ga suka dengan gerimis. Tapi gw lebih ga suka saat gerimis mulai menertawakan gw.

Gw adalah pria yang sangat membenci gerimis, tapi ga akan begitu saja kalah. Gw adalah pria yang sangat membenci dingin, tapi adalah pria yang sama, yang akan menantang ribuan hujan yang tersisa...


(mungkin ga ada org lain yg menanggapi konflik dengan gerimis seserius gw, but its a free country right?!)
^_^v
_bickygapenting_

1 Responses to Pembenci Gerimis

  1. sintamilia Says:
  2. Gw suka gerimis...

     

Posting Komentar

89P HIGHLIGHT


ShoutMix chat widget

FOLLOW US

89 PROJECT CREWs


PRODUCER

Robby Prasetyo

PRODUCTION MANAGER
Laila Ramdhini

SCRIPTWRITER SUPERVISOR
Lulu Fahrullah

SCRIPTWRITER & DIRECTOR
Bicky Perdana Putra

1st. ASSISTANCE DIRECTOR
Kiky Amalia Indria Furqon

2nd. ASSISTANCE DIRECTOR
Stevania Randalia Sembiring

DIRECTOR of PHOTOGRAPHY
Fadhli Ahmad

CAMERA DEPT. CREW
Muhammad Andhika Rahayu

CAMERA DEPT. CREW
Lutfi Muhammad

ART DIRECTOR

Yuki A. Nagarani

SET & PROPS
Reza Marza

MAKEUP & WARDROBE
Putu Ayu Andhira Santika

LOCATION & LOGISTIC MANAGER
Lisma Hardiyanti

SOUND RECORDIST
Rizky Indra Purnama

BOOMER
Immanuel Variant R.

EDITOR
Robby Prasetyo

DIRECTOR of BEHIND THE SCENE
Sintamilia Rachmawati

BEHIND THE SCENE CREW
Alvi Rahmawati

ADDITIONAL CREWs
Puput
Kasih Kisah
Ardhito Kristiono

Alam Jenuin D.
Iman Purnama

KOLOM PENDAPAT

!!! COMING UP NEXT !!!

!!! COMING UP NEXT !!!
Flickering Light casting | 1 - 3 Oktober 2010

ADMIN & KONTRIBUTOR BLOG 89 PROJECT